Kita tidak sedang Membangun Negeri ini Hanya dengan satu Kelompok, Indonesia sederhananya adalah Keragam Budaya, Etnis dan Agama. Kita boleh berbeda, dan itu adalah Fitrah. kita terlahir dengan pikiran dan Pengalaman yg berbeda, tapi bukan berarti melegalkan alasan bahwa kita takbisa bekerja sama dan saling Toleran pada Ranah-ranah Muamalah.
Bhineka Tunggal Ika adalah Ruh dan Semboyan Negeri ini, Indonesia adalah representasi dari dunia dalam Contoh yang Komplit. Kita sedang menuju kebangkitan Peradaban, belajar untuk meminpin bangsa ini sebelum kita menjadi Negara adidaya yang membawa perubahan tidak hanya bagi Masyarakat Indonesia tapi juga Dunia secara Umum.
Selasa, 24 Desember 2013
Senin, 23 Desember 2013
Pesan dari Konflik SARA
Untuk kesekian kalinya kerukunan bangsa ini terkoyak dengan berbagai
isu-isu konfil SARA. Kejadian di Cikeusik dan penyerangan pasantren di
jawa seakan membuat tambahan baru dalam daftar konflik yang pernah
terjadi di negri kita ini. Konflik dengan Ahmadiyah yang seyogianya
tidak perlu terjadi karna telah adanya keputusan yang jelas dari MUI dan
SKP tiga mentri seharusnya itulah yang menjadi dasar kepada pemerinth
kita untuk mengeluarkan keputusan tegas yang mengayomi keinginan
mayoritas Masyarakat Indonesia.
Tapi itu ternyata tidak dilakukan, pemerintah kita ternyata hanya lebih
sibuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat melanggengkan kekuasaan
& sudah mulai berbicara pemilu 2014.
Minggu, 22 Desember 2013
Penggetar IMAN di Medan JIHAD
“persiapkanlah Jiwa-jiwa kalian untuk melakukan kerja yang Mulia dan
Besar, Berusahalah untuk Mati secara Mulia sehingga Allah akan
memberikan Kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah bahwa kematian pasti
akan datang, dan hal itu terjadi hanya satu kali; jika kalian
menjadikannya mati dijalan Allahmaka itulah sebuah keberuntungan di
dunia dan ganjaran yang besardi akhirat” Hasan Al Banna
“jika ajalku telah Tiba, maka takada seorangpun yang mampu mencegah kematianku, namun jika belum saatnya maka apapun usaha mereka tak mungkin akan berhasil juga!” Abu A’la al Maududi
“Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat La ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan La ilaha illa Allah.” Sayyid Quthb
“jika ajalku telah Tiba, maka takada seorangpun yang mampu mencegah kematianku, namun jika belum saatnya maka apapun usaha mereka tak mungkin akan berhasil juga!” Abu A’la al Maududi
“Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat La ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan La ilaha illa Allah.” Sayyid Quthb
Beramal Dalam JAMA'AH
“Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal, Himpunlah
daun-daun yang berhamburan ini. Hidupkan lagi ajaran saling mencintai,
Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu.” Mungkin ini sepenggal bait
dari sajak do’a Iqbal. Gambaran kegelisahan Batin atas kesaksian pada
Zamannya. Ummat hari ini tak ubahnya seperti daun yang berhamburan, tak
ada lagi kekuatan yang mampu menghimpun untuk menentang angin yang
bertiup walau hanya sekedar untuk tetap berada pada posisinya. Ada
kerinduan dimana daun-daun itu terhimpun layaknya dulu ketika masih
dalam dekapan ranting-ranting yang cukulah untuk memberikan
perlindungan.Begitulah kenyataan ummat hari ini. Mungkin banyak dari mereka adalah orang-orang saleh, tapi mereka tak ubahnya daun yang tidak terhimpun dalam sebuh Jama’ah. Mungkin banyak orang-orang hebat diantara mereka, tapi kehebatan mereka seakan sirna untuk melawan terpaan angin zaman.
Panggung Peradaban
Sejarah hanyalah goresan perjalanan panjang berbagai otobiografi
tokoh-tokoh besar dengan ceritanya yang selalu menarik dan berbeda dari
kebanyakan orang, mereka selalu memilih jalan yang kebanyakan orang
terasa susah untuk dilalui. Sejarah peradaban hanyalah sebuah pentas
dari jiwa-jiwa merdeka, yang memilih dirinya untuk berarti dan menjadi
sosok yang bermanfaat, kita akan menemukan mereka pada setiap masa
dengan karakternya yang unik dengan langkah-langkah besar yang menjadi
ciri khasnya. Jalan membangun sebuah peradaban teralu besar, sulit dan
menguras hampir semua yang kita miliki (Harta,waktu dan Jiwa). Berbagai
cerita tetangnya selalu diisi dengan cerita-cerita patriotisme yang
membuat kita terkesan tidak berarti bila dibandingkan mereka, bagaimana
Abu Bakar ra memberikan semua hartanya pada perang tabuk yang hanya
menyisahkan Allah dan Rasullanya atau kita akan menemukan Thalhah Bin
Ubaidillah yang menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi
Rasulullah SAW pada perang uhud dan terkena lebih dari 70 luka,
jari-jari tangannya yang putus tapi masih sanggup mengendong Rasulullah
menaiki puncak bukit.Itulah potongan cerita pada pentas peradaban yang ceritanya selalu membuat takjub para penikmatnya.
Pelopor Bangsa
Adalah Negri kaya, dengan berbagai
limpahan kekayaan yang sulit tergambarkan bagi mereka yang berakal
sekalipun. Ini dalah surga bagi duniamu yang tergambarkan dengan seindah
pandanganmu, terlau banyak Rizki yang tercurahkan pada bumimu. Yang
membuat para malaikat menggugat, apakah Kau akan menciptakan manusia
yang akan membuat kerusakan di muka bumi ?. itulah seindah dan sehalus
teguran kepada hambaNya dengan cintah yang berlimpah dalam pesan-pesan
cintannya. Tapi kita terlalu naïf untuk bisa memahami, ataukah mungkin
kita menjadi Bandel karna merasa sebagai anak kesanyangan…jangan pernah
sedikitpun pikiranmu terbesit untuk kufur akan nikmatnya, cukuplah 2/3
pesan dari Rabbmu yang disampaikan dari Kekasihnya yang termulia tentang
gambaran ummat terdahulu yang Kufur akan NikmatNya.
Untuk kesekian kalinya Negerimu terlalu kaya, yang membuat ummat-ummat lain iri dengan dirimu. Dan sebagian dari mereka berpikir untuk berbuat kejahatan pada dirimu, bahkan jauh sebelum dirimu lahir.
Langganan:
Postingan (Atom)








