Untuk kesekian kalinya kerukunan bangsa ini terkoyak dengan berbagai
isu-isu konfil SARA. Kejadian di Cikeusik dan penyerangan pasantren di
jawa seakan membuat tambahan baru dalam daftar konflik yang pernah
terjadi di negri kita ini. Konflik dengan Ahmadiyah yang seyogianya
tidak perlu terjadi karna telah adanya keputusan yang jelas dari MUI dan
SKP tiga mentri seharusnya itulah yang menjadi dasar kepada pemerinth
kita untuk mengeluarkan keputusan tegas yang mengayomi keinginan
mayoritas Masyarakat Indonesia.
Tapi itu ternyata tidak dilakukan, pemerintah kita ternyata hanya lebih
sibuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat melanggengkan kekuasaan
& sudah mulai berbicara pemilu 2014.
Sehinggahnya apa yang
dikawatirkan selamah ini terjadi, perasaan masyarakat yang selamah ini
resah kemudian menumpuk dan mengeluarkannya dalam momentumnya yang itu
kemudian membuat instabilitas terjadi dinegri ini.
Ada yang menarik
dari peristiwa di Cikeusik kemarin terkait kinerja aparat kita yang
tidak terlihat kerjanya dilapangan, pertanyaannya adalah mengapa sampai
seperti itu ? apakah mereka(aparat) yang nota bene
tugasnya adalah melakukan pengamanan loh malah kecolongan. Dan yang
anehnya ketika peristiwa itu terjadi mereka ramai-ramai menyalahkan umat
islam, orang yang terkesan menyembunyikan kemunafikannya dalam balut
kebebasaan beragama dan HAM yang menjadi musuh dalam selimut, yang tidak
ada kesenangan pada diri mereka ketika melihat Islam menjadi Rahmatan
Lil Alamin.
Ada beberapa analisis yang ingin kami sampaikan kepada pembaca
terkait beberapa konflik Sara yang terjadi di Negri ini. Hal yang
pertama kita harus sadari adalah bahwa konflik antara Al Hak dan Al
Batil akan terus terjadi sampai hari kiamat, sehingganya musuh-musuh
Islam mereka akan terus melakukan & menghalakan segala cara agar bagaimana Islam itu tidak akan pernah bangkit, tapi siapakah yang lebih baik rencananya dari Sang Pembuat Rencana ? sehinggahnya untuk konteks Indonesia mereka terus melakukan propaganda
dan melakukan sigma-stigma negative pada para Du’at(Da’i), ormas islam
termasuk Partai Islam. Ada kehawatiran dan ketidak percayaan mereka
terhadap islam mengenai konsepnya yang menyeluruh dan sempurnah dan
kekhawatiran mereka membesar ketika mereka menjadi orang yang terbuang
ketika nanti Indoneia bangkit dengan system Islam. Sehinggahnya sejak
Negara ini di proklamirkan 1945 mereka terus melakukan kaderisasi
terkait menyambung tongkat perjuangan melawan Konsep Islam.
Berbagai isu mereka mainkan termasuk Konflik Sara dan yang paling
mengganggu adalah isu terorisme. Ada kekhawatiran mereka yang begitu
besar tentang masa depan Islam di Indonesia, apalagi mengingat Untuk
tahun ini menjadi tahun Revolusi dari berbagai Negara Islam melakukan
gerakan pembaharuan dalam system ketatanegaraan. Yang inin kami
sampaikan masa depan Indonesia tidak akan dibawah kemana dia hanya akan
focus pada masalah mensejaterahkan rakyat dan memberikan jaminan
keadilan bagi seluruh lapisan Masyarakat dan ini yang masyarakat
inginkan tidak lebih, sehinggahnya tidak perlu adanya Fobhiah kepada
Islam….bukankan ia menjadi agama kita selama ini, dan sejarah telah
mencatat bahwa hanya Islamlah yang bisa menjamin berlangsungnya sebuah
Pluralitas & masyarakat Heterogen.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar